Maret 15, 2010

Jalan-jalan ala Ransel ke Bali

Alhamdulillah sebelum saya pulang ke jakarta, saya diberi kesempatan buat jalan-jalan dulu ke bali ala ransel a.k.a duit pas-pasan bareng temen-temen perjuangan saya di Marvelous, Pare, Jawa Timur. Ohh iya just for your info aja, saya setelah lulus kuliah ga langsung pulang ke jakarta tapi saya ke kampung inggris, Pare, Jawa timur. Disini saya kurang lebih sudah hampir 3 bulan dan alhamdulillah kemampuan bahasa inggris saya meningkat drastis *pamer*.

Day 1 
Kita berangkat dari pare setelah subuh, walaupun sempet susah juga bangunin  si supir. Awalnya kita ke bali ber-8 eh dikarenakan si asti sudah ada panggilan kerja di semarang akhirnya kita ber-7 saja yakni saya, heidi, hendra, agus, pacarnya agus, ivan dan oji. Taraaa.... Berangkat! Perjalanan dimulai dari pare kita akan menuju banyuwangi. Biasa, eforia anak muda kalo mau jalan-jalan itu pasti senengnya kebangetan dan hobbinya foto-foto dimanapun kita berada ga ada capeknya. Apalagi team marvelous ini isinya orang-orang narsis ya ga cewe apalagi cowonya.
Cek Ban dulu biar selamet :D
Tak ku kira tak ku sangka, ternyata perjalanan ke banyuwangi itu jauh banget. Yang saya duga siang kita sudah bisa naik kapal, eh ternyata sampai di penyebrangan itu sekitar jam setengah 7 malam. Wew! *badan rontok semua*. Dan kira-kira kita baru naik kapal feri jam 8nan *fiuuhh* dikarenakan ngantriiiiiiiii...
Suasana di kapal feri malam hari


Padahal saya sudah membayangkan naik kapal feri pada sore hari pasti indah banget. Ya tetapi manusia hanya bisa merencanakan, yang menentukan Allah *lho apaa siii* akhirnya kita naik kapal ferinya malam dan jadi ga oke deh foto-fotonya. Dan sepertinya saya masuk angin, setelah ini. Bayangkan satu jam perjalanan saya diluar menikmati angin laut malam hari.
Akhirnya setelah satu jam perjalanan kami sampai pulau dewat *tari kecak* dan disini lah konflik bermulai. Posisi fisik sudah lelah ditambah kita bingung mau tidur dimana, secara ini sudah malam juga. Setelah berjam-jam muter-muter denpasar akhirnya kita mendapat hotel murah di dekat terminal ubung permalam hanya Rp. 90.000/kamar. Fiuuuuuuhhhhh sekitar jam 12 akhirnya bisa merehatkan badan *Gudnight*

Day 2 
Kuta-Sanur-Pasar Sukowati
Ahhh... tetapi sayang pantai kuta hari ini sangat jelek, sampah dan ranting dimana-mana. Yang katanya surga dunia bagi orang-orang bule tapi saya amat tidak menikmati pantai ini. *mungkin saya bukan bule*
Pantai Kuta, tak seindah di tv!

Akhirnya para lelaki di pantai saya dan heidi langsung cuuuss jalan-jalan ke emperan kuta untuk melihat pernak-pernak. Karena harganya yang cukup mahal kita langsung berfikir untuk ke pasar sukowati. 
Sebelum ke sukowati kita mampir dulu ke sanur, karena memang jalannya searah.
Scenary sanur beach more better than kuta
Tak lama dari sanur kita langsung menuju pasar sukowati karena sudah sore, ditakutkan tutup. Benar ternyata dipasar sukowati ini sangat jauh dengan yang ada di kuta. Alhasil saya dan heidy ngeborong abis-abisan. Saya membeli Baju dress pantai, baju jaring-jaring, kaos buat oleh-oleh, belt bali, kalung, kain bali, tas untuk mama, sendal jepit bali. Waduuuuhhh kalap, tetapi dengan membeli sebanyak itu kira-kira cuma habis sekitar Rp 300.000 lho. Oh iya FYI kalo udah nawar di pasar sukowati jangan sekali-sekali tidak membeli karena kalian akan disemprot sama pedagannya. *galak-galak*

Akhirnya sekitar jam 8 malam kita sampai di penginapan, tadinya para lelaki ngajak ke kuta atau discovery lagi untuk nongkrong-nongkrong, tetapi karena saya dan heidi udah tepar tak kuat menahan lelah ini. Jadi kami memilih tiduuuuuuurrr *heaven

Day 3 
Joger-Bedugul-Go home
Niat awalnya kita di bali sekitar 4 hari. Tetapi karena sang supir ada keperluan mendadak dan karena juga kantong kita sudah habis. Akhirnya kami memilih pulang malam ini juga :(
Kalo udah sampai bali harus tuh ke joger. Ya sebelum kita ke bedugul mampir dulu ke joger, walaupun liat-liat aja ga pake belanja *ups
big sandals joger jelek

Lanjut perjalanan ke bedugul, ternyata bedugul itu ke arah pegunungan dan kita sempet nyasar sana sini jadi muter-muter dan menghabiskan waktu. Setelah kira-kira 2 jam perjalanan kita benar-benar disuguhkan dengan scenary yang subhanallah indahnya.
Istirahat dulu, supir capek!
Lanjuuuuuuuttttt......alhamdulillah sampe jugaaaa...
Pura di tengah danau
Hamparan bunga di pinggir danau
Subhanallah indahnya ciptaan Allah. Tak menyesal kita jauh-jauh muter-muter ke bedugul dan lelah kami hilang saat disuguhkan pemandangan ciptaan Allah ini.
Tak terasa hari sudah sore, padahal masih banyak tempat wisata di bali yang belum kita kunjungi. Ya tapi bagaimana lagi karena persediaan juga sudah menipis. Hehehe.. Akhirnya kita pulang ke pare, tanpa ada foto-foto lagi karena kita sudah sangat lelah dan sepanjang perjalanan saya tidur pulas :)

Semoga saya bisa kembali lagi ke bali dan ingin sekali juga ke lombok. Semoga suatu saat bisa dengan orang yang tercinta.

Wassalam :*

Januari 27, 2010

English village.. So awesome..



Pare.. do u ever hear name this town? i think never, because this town not famous.. but this town so unique, in this town have a village but this village different with another village. ENGLiSH Village (Desa Tulungrejo). in this village have a lot of english course, i think more than 200 english course. wow so many!!!
Selama 2 bulan saya belajar english disana dan hasilnya sangat memuaskan. banyak baget vocab2 yang belom qta tau dan belajar pronouncation yang bener kaya orang amrik gitu... Gimana saya disana ga jd pinter? Karena selama 2 bulan penuh kita ngomong pake bahasa inggris kalo enggak ngomong pake bhs inggris, kita bakal dapet punishment!!! Everyday must speak english.. 
Seandainya saya masih punya waktu banyak, pasti saya bakal kesana lagi. Intinya buat belajar bahasa inggris must practice everyday. English is easy!!!

Oktober 16, 2009

Mencintai Itu Keputusan


Oleh : Anis Matta


Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar. Kemudian ia pun berkata, “Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini”. Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi. Sebab memberi adalah pekerjaan. Sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat. Sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama. Sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh. Maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia mengatakan, “Aku mencintaimu”. Kepada siapa pun! Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian di situ.

Aku mencintaimu, adalah ungkapan lain dari Aku ingin memberimu sesuatu. Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari, “Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia…” “aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin…” “aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu …” “aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu….”
Dan proses pertumbuhan itu taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, “Aku mencintaimu”, kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, Tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi. Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap.

Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.
Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu, konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi di situlah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Di situ konsistensi teruji.

Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam waktu yang longgar.
Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya mengatakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati. Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya.Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu. []