Tampilkan postingan dengan label Personal Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal Review. Tampilkan semua postingan

September 28, 2013

September mu, September ku, September kita

Malam ini, belum juga terlelap. Sepertinya masih sanggup untuk memecahkan keheningan malam dengan sebait dua bait ketikan , mungkin sekaligus sebagai ucapan terimakasih pada bulan september yang memberikan warna dan keceriaan yang terkembang disetiap harinya. Walaupun di bulan-bulan sebelumnya tak kalah membanggakan bagiku, tapi tak ada salahnya aku memberikan sedikit keistimewaan di bulan September.

Langkah yang semakin terjal pasti akan kulalui, tapi indah jika kita lebih menyebutnya dengan "seni menghalau rintangan", tak dijadikan beban namun justru bisa menjadi pekikan semangat bahwa aku bisa melewatinya dengan mulus, dan Allah akan menghadiahkan yang terbaik untuk kita! itu pasti !! Semoga selalu ada energi yang terpancar yang senantiasa menguatkan langkahku. Nyeri rasanya melihat kondisi yang serba tak menentu. Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk bisa membuat semuanya justru jadi suatu hal yang menguatkan kita.

Aku juga tak ingin melupakan segenggam kisah di bulan September, warnanya, sensasinya, perjuangannya, bonusnya. Itu baru sebagian, belum lengkap dan akan lebih kuwarnai lagi di bulan-bulan mendatang. Semoga selalu ada inspirasi baru sehingga kita selalu dapat dikatakan sebagai manusia yang produktif, karena hidup ini berputar. Tak selamanya kita akan dengan posisi yang sama, tak selamanya dihujani nikmat, tapi juga tak selamanya dilempari celaan. Semuanya itu adil, dan Allah pun maha adil untuk segenap umatnya di alam semesta ini.

September akan berakhir, berganti bukan ke 10 yang harusnya juga memberikan bonus yang 10, karena angka 10 sebagai lambang kesempurnaan nilai. Rapor anak 10 berarti dia bisa mengikuti semuanya dengan baik. Itu analogi sederhananya, dan selalu ada kesempatan yang bisa kita raih agar kita juga mendapatkan si sepuluh tersebut. Setidaknya mendekati 10 agar kita bisa menerapkan hidup yang setaraf lebih tinggi. Bukan bermaksud hanya menengok keatas, tapi kita harus memiliki target yang pasti dan sebagai motivasi untuk kita  mengusahakan yang terbaik. Jangan lupa juga menoleh ke kanan dan ke kiri, karena paling tidak kita juga bisa memberikan sesuatu yang setidaknya memiliki arti untuk orang lain.

Doa, usaha atau ikhtiar dan tawakal yang harusnya semakin kencang kita minta-kan kepada Sang Maha Kuasa, kita hanya makhlukNya yang lemah yang tak memiliki daya upaya tanpa kekuatan dariNya.

Kutuliskan sebuah mutiara sederhana :

September.................ceria dan menceriakan
Oktober....................motivasi dan bisa memotivasi
November.................kuat dan saling menguatkan
Desember.................bahagia dan berbagi

setidaknya azzam itu kutancapkan, ada parameter pasti yang bisa membuat aku bersemangat. Jangan lupa pada qalbu kita juga. Jadikanlah yang tebal itu iman dan yang hanya tipis itu amarah dan penyakit hati. Aku yakin kita semakin ceria, aku berdoa semua tercerahkan.

September ku, september mu, september kita dan lebih bercahaya di bulan-bulan berikutnya.


September 25, 2013

Serius nih udah siap untuk menikah??

Bismillahirahmaanirrahiim...

Hari rabu siang yang cukup panas hari ini, entah hari ini aku tidak merasa lapar jadi mending saya tunda lunch daripada browsing-browsing ga jelas dan  mumpung ga ada si bos jadi bisa curcol sedikit di blog :p

Siapa sih yang ga mau menikah? Pasti impian hampir semua orang memperoleh kebahagian melalui menikah. Apalagi di umur saya yang tergolong pas umur untuk menikah bagi wanita yakni 24 tahun, pasti banyak yang sudah menanyakan kapan nikahnya? sudah ada calon belum? dan bla..bla..bla..  Ya kata-kata itu sudah sering sekali terdengar di telinga saya, apalagi jika ada teman sebaya saya yang sudah menikah. Tetapi alhamdulillah pertanyaan itu sudah menghilang dan pertanyaan itu berubah menjadi "Serius nih kamu sudah siap untuk menikah?" wew sempat bingung juga ya sama orang-orang kemarin menanyakan kapan menikah, nah sekarang saat pernikahan di depan mata malah ditanya seperti itu. Ckckckck *namanya juga manusia, petanyaan tak akan ada habisnya*. 

Well, kadang pertanyaan itu ternyata juga saya pikirkan juga lho. Sudah siapkah saya menikah? Sudah mempersiapkan ilmu kah saya untuk menikah? seberapa besar persiapan ruhiah dan batiniah saya untuk menikah? dan tetiba saya termenung untuk memikirkan hal tersebut.

Banyak juga yang bilang kepada saya, jangan dikira ya menikah itu senang-senang saja, bisa berdua-duaan saja, menikah itu lebih jauh-jauh dari romansa itu. Dan kamu itu masih tergolong muda lho, saya saja yang menikah di umur matang masih sulit menjalakannya dan bla..bla..blaa... 
Yes, i exactly know it and i realize it! Saya sadar betul bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian besar antara mahluk dengan Tuhannya. Dan saya juga sadar bahwa pernikahan itu seperti sebuah gunung, saat dari jauh kita melihatnya gunung tersebut akan terlihat indah dan sejuk dipandang padahal saat kita daki gunung tersebut banyak terdapat tantangan, onak duri, jalan yang terjal yang terus menghadang. Tapi bukankah saat kita bisa melewati rintangan tersebut dengan sabar, kita akan sampai di puncak gunung dimana kita menikmati keindahan seluruh alam ciptaan Allah?

Ya.. setiap orang pasti mempunyai cara yang berbeda-beda untuk menggapai kebahagiaanya sendiri. Bahagia itu adalah pilihan bukan? Well, mau nikah muda atau nikah saat sudah tidak merasa muda, semua itu tergantung kebutuhan pribadi masing-masing. Toh menikah itu juga sudah digariskan sama Allah sama seperti kematian, tidak memilih yang muda atau yang muda kan.. Saya gak maksa harus nikah muda tapi juga gak mendukung pacaran yang terlalu lama. Kalau sudah merasa siap kenapa tidak dihalalkan. Seperti prinsip hidup saya, saya mah ingin Allah ridho ajaa. Saya lebih baik berdarah-darah belajar untuk ambil tanggung jawab lebih dulu dengan menikah daripada harus keasikan pacaran yang belum tentu jelas arah akhirnya. *Yap, saya dulu juga pernah menjadi korban dari pacaran lama*. Dengan pilihan saya ambil nanti akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah dan sungguh saya menikah hanya ingin menggapai Ridho Allah dengan ikatan yang halal. That's it!

Jadi jika ada yang bertanya kepada saya "Serius nih kamu sudah siap untuk menikah?" akan saya jawab "In shaa Allah saya siap. Menikah karena Allah, memuliakan sunnah Nabi Muhammad SAW serta untuk beribadah dan cinta". *nyengir*

September 05, 2013

Cahaya di atas Cahaya

Kita hidup dengan segala kebaikan dan keburukannya, membangun sebuah bangunan yang semu dan rapuh pun sempat terjadi namun di dalam hati ini terus dan tetap ada asa kelak akan berubah dan membangun kembali dengan bangunan yang baru serta kokoh yang dilandasi keimanan dan ketakwaan.

Kadang, membutuhkan momentum yang pas untuk menuju perubahan, butuh pengorbanan yang mendalam, serta butuh ketulusan karenaNya lah kita menyanggupi diri untuk keluar dari zona kerapuhan. Pada akhirnya disuatu saat, Allah menyadarkan kita, mengingatkan kita dengan caraNya, sehingga membuat kita berfikir dan berubah 180 derajat dari hubungan kerapuhan menjadi hubungan yang berlandaskan ketakwaan karenaNya.





Dahulu, ketika diri ini masih dalam kebodohan selalu diri ini berdoa "Ya Rabb ampunilah kami, Ya Rabb jika memang dia jodohku tolong perbaiki sifat dan akhlaknya, sehingga ia pantas menjadi pendamping dan melahirkan anak-anak yang shaleh dan shalehah." Perlahan tapi pasti, Allahpun merubah sikap ini, akhlak pada diri ini dan juga kemudian pada dirimu. Allah menuntaskan janjiNya, membimbing kita dengan hidayahNya..
Rabb, seharusnya diri ini malu ya Rabb karena begitu banyak nikmat yang Kau berikan kepada kami, tetapi kami tetap berpaling dariMu. Rabb, janjiMu pasti, pasti Kau tepati. Rabb, diri ini telah kupasrahkan padaMu untuk menjadi hambamu yang taat, yang selalu bergumul dengan kebaikan orientasi khusnul khatimah. Oleh karena itu mantapkan diri kami dalam keistiqomahan berada di jalanMu. Hingga raga ini terpisah dengan ruhnya, hingga keyakinan ini menemui ganjaranNya, hingga rahmatMu menyelamatkan kami..

Rabb, dosa ini begitu banyak, menumpuk sesak, mengotori hati, hitam dan keruh.. Ampunilah Rabb, berilah cahaya diatas cahaya, bersihkan dan selamatkan diri kami dari api neraka..

Rabb, terimalah amal-amal kami, yang tak pernah sempurna, karena ketidak sempurnaan kami. Rabb hanya kepada Engkaulah Yang Maha Sempurna, maka sempurnakanlah sesuatu yang tidak sempurna daripada amal-amal kami..

Amiin.. Yaa Rabbal 'alamin..